Budaya: Identitas – Budaya adalah identitas yang membentuk jati diri suatu bangsa. Namun, hari ini, budaya kita semakin tergilas oleh derasnya arus modernisasi. Tradisi yang seharusnya menjadi warisan berharga justru di pandang sebelah mata, di gantikan oleh gaya hidup instan dan kebarat-baratan yang semakin menjauhkan kita dari akar sejarah.

Tradisi yang Mulai Ditinggalkan

Dahulu, budaya gotong royong menjadi nafas kehidupan masyarakat. Orang-orang saling membantu tanpa pamrih, menciptakan kebersamaan yang erat. Namun sekarang? Individualisme merajalela! Masyarakat lebih sibuk dengan gawai, lebih peduli pada dunia maya di bandingkan hubungan nyata. Rasa kebersamaan yang dulu di banggakan, kini hanya tinggal cerita.

Batik dan kebaya yang dulu menjadi kebanggaan, kini tergeser oleh tren fashion luar negeri. Anak-anak muda lebih bangga mengenakan produk luar daripada kain yang menjadi simbol kejayaan leluhur. Ironis! Kita memuja budaya asing, sementara budaya sendiri semakin pudar.

Seni dan Adat yang Terabaikan

Kesenian tradisional seperti wayang kulit, tari jaipong, hingga gamelan semakin kehilangan slot kamboja. Televisi dan media sosial lebih banyak menampilkan hiburan instan yang mengikis apresiasi terhadap seni budaya sendiri. Generasi muda lebih kenal dengan musik K-pop di bandingkan karawitan. Lebih hafal tarian TikTok di bandingkan tari tradisional. Apakah ini yang disebut kemajuan?

Upacara adat yang dulu begitu sakral kini hanya menjadi formalitas. Ritual-ritual adat perlahan di tinggalkan karena di anggap kuno dan tidak relevan. Padahal, di balik setiap tradisi, terdapat makna mendalam yang mencerminkan kearifan lokal. Sayangnya, semua itu terkikis oleh gaya hidup modern yang lebih mementingkan efisiensi daripada nilai historis.

Bahasa Daerah yang Terancam Punah

Tak cukup sampai di situ! Bahasa daerah bonus new member 100 yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa justru semakin terpinggirkan. Anak-anak muda enggan menggunakan bahasa ibu mereka sendiri. Mereka lebih fasih berbahasa asing daripada bahasa nenek moyangnya. Sekolah-sekolah pun semakin jarang mengajarkan bahasa daerah dengan baik. Jika ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bahasa daerah akan menjadi sekadar sejarah yang tertulis di buku.

Siapa yang Harus Disalahkan?

Apakah globalisasi yang patut di salahkan? Atau justru kita sendiri yang terlalu abai menjaga warisan budaya? Jangan hanya menyalahkan zaman! Kemalasan untuk mempertahankan budaya berasal dari dalam diri sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan identitasnya, bukan yang mudah terombang-ambing oleh budaya asing.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton yang pasif! Budaya kita bukan barang usang yang layak di tinggalkan. Kitalah yang seharusnya berdiri tegak, menjaga dan melestarikan apa yang telah di wariskan oleh leluhur. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?